Selasa, 04 Juni 2013

MENGENAL MAULANA MALIK IBRAHIM

Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim (w. 1419 M/882 H) adalah nama salah seorang Walisongo, yang dianggap yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Ia dimakamkan di desa Gapurosukolilo, kota Gresik, Jawa Timur.


Tidak terdapat bukti sejarah yang meyakinkan mengenai asal keturunan Maulana Malik Ibrahim, meskipun pada umumnya disepakati bahwa ia bukanlah orang Jawa asli. Sebutan Syekh Maghribi yang diberikan masyarakat kepadanya, kemungkinan menisbatkan asal keturunannya dari wilayah Arab Maghrib di Afrika Utara.
Babad Tanah Jawi versi J.J. Meinsma menyebutnya dengan nama Makhdum Ibrahim as-Samarqandy, yang mengikuti pengucapan lidah Jawa menjadi Syekh Ibrahim Asmarakandi. Ia memperkirakan bahwa Maulana Malik Ibrahim lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14.
Dalam keterangannya pada buku The History of Java mengenai asal mula dan perkembangan kota Gresik, Raffles menyatakan bahwa menurut penuturan para penulis lokal, "Mulana Ibrahim, seorang Pandita terkenal berasal dari Arabia, keturunan dari Jenal Abidin, dan sepupu raja Chermen (sebuah negara Sabrang), telah menetap bersama para Mahomedans lainnya di Desa Leran di Jang'gala".
Namun demikian, kemungkinan pendapat yang terkuat adalah berdasarkan pembacaan J.P. Moquette atas baris kelima tulisan pada prasasti makamnya di desa Gapura Wetan, Gresik; yang mengindikasikan bahwa ia berasal dari Kashan, suatu tempat di Iran sekarang.
Terdapat beberapa versi mengenai silsilah Maulana Malik Ibrahim. Ia pada umumnya dianggap merupakan keturunan Rasulullah SAW, melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja'far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal, Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), dan Maulana Malik Ibrahim, yang berarti ia adalah keturunan orang Hadrami yang berhijrah.
Penyebaran agama
Maulana Malik Ibrahim dianggap termasuk salah seorang yang pertama-tama menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, dan merupakan wali senior di antara para Walisongo lainnya. Beberapa versi babad menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali ialah desa Sembalo, sekarang adalah daerah Leran, Kecamatan Manyar, yaitu 9 kilometer ke arah utara kota Gresik. Ia lalu mulai menyiarkan agama Islam di tanah Jawa bagian timur, dengan mendirikan mesjid pertama di desa Pasucinan, Manyar.
Makam Maulana Malik Ibrahim, desa Gapurosukolilo, Gresik, Jawa Timur
Pertama-tama yang dilakukannya ialah mendekati masyarakat melalui pergaulan. Budi bahasa yang ramah-tamah senantiasa diperlihatkannya di dalam pergaulan sehari-hari. Ia tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan hidup dari penduduk asli, melainkan hanya memperlihatkan keindahan dan kabaikan yang dibawa oleh agama Islam. Berkat keramah-tamahannya, banyak masyarakat yang tertarik masuk ke dalam agama Islam.
Sebagaimana yang dilakukan para wali awal lainnya, aktivitas pertama yang dilakukan Maulana Malik Ibrahim ialah berdagang. Ia berdagang di tempat pelabuhan terbuka, yang sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar. Perdagangan membuatnya dapat berinteraksi dengan masyarakat banyak, selain itu raja dan para bangsawan dapat pula turut serta dalam kegiatan perdagangan tersebut sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal atau pemodal.
Setelah cukup mapan di masyarakat, Maulana Malik Ibrahim kemudian melakukan kunjungan ke ibukota Majapahit di Trowulan. Raja Majapahit meskipun tidak masuk Islam tetapi menerimanya dengan baik, bahkan memberikannya sebidang tanah di pinggiran kota Gresik. Wilayah itulah yang sekarang dikenal dengan nama desa Gapura. Cerita rakyat tersebut diduga mengandung unsur-unsur kebenaran; mengingat menurut Groeneveldt pada saat Maulana Malik Ibrahim hidup, di ibukota Majapahit telah banyak orang asing termasuk dari Asia Barat.
Demikianlah, dalam rangka mempersiapkan kader untuk melanjutkan perjuangan menegakkan ajaran-ajaran Islam, Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren-pesantren yang merupakan tempat mendidik pemuka agama Islam di masa selanjutnya. Hingga saat ini makamnya masih diziarahi orang-orang yang menghargai usahanya menyebarkan agama Islam berabad-abad yang silam. Setiap malam Jumat Legi, masyarakat setempat ramai berkunjung untuk berziarah. Ritual ziarah tahunan atau haul juga diadakan setiap tanggal 12 Rabi'ul Awwal, sesuai tanggal wafat pada prasasti makamnya. Pada acara haul biasa dilakukan khataman Al-Quran, mauludan (pembacaan riwayat Nabi Muhammad), dan dihidangkan makanan khas bubur harisah.
Legenda rakyat
Menurut legenda rakyat, dikatakan bahwa Syeh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik berasal dari Persia. Syeh Maulana Malik Ibrahim dan Syeh Maulana Ishaq disebutkan sebagai anak dari Syeh Maulana Ahmad Jumadil Kubro, atau Syekh Jumadil Qubro. Syeh Maulana Ishaq disebutkan menjadi ulama terkenal di Samudera Pasai, sekaligus ayah dari Raden Paku atau Sunan Giri. Syeh Jumadil Qubro dan kedua anaknya bersama-sama datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah; Syekh Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Syeh Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan; dan adiknya Syeh Maulana Ishak mengislamkan Samudera Pasai.
Syeh Maulana Malik Ibrahim disebutkan bermukim di Champa (dalam legenda disebut sebagai negeri Chermain atau Cermin) selama tiga belas tahun. Ia menikahi putri raja yang memberinya dua putra; yaitu Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha atau Raden Santri. Setelah cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, ia hijrah ke pulau Jawa dan meninggalkan keluarganya. Setelah dewasa, kedua anaknya mengikuti jejaknya menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.
Syeh Maulana Malik Ibrahim dalam cerita rakyat kadang-kadang juga disebut dengan nama Kakek Bantal. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah, dan berhasil dalam misinya mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara.
Selain itu, ia juga sering mengobati masyarakat sekitar tanpa biaya. Sebagai tabib, diceritakan bahwa ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Champa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.

PAKET TOUR ZIARAH WALI 5

TOUR ZIARAH WALI 5 (LIMA) (1 HARI)


Dari kiri kekanan, dari atas ke bawah :Syeh Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri
Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Sunan Drajad, Sunan Gunung Jati.

Di tanah jawa ada 9 orang yang sangat sukses menyebarkan agama Islam. Beliau terkenal dengan sebutan wali songo (sembilan). Mereka adalah Syeh Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Sunan Drajad, dan Sunan Gunung Jati. 
         Tour Ziarah Wali lima adalah mengunjungi makam 5 orang wali diantaranya yaitu Sunan Ampel (Surabaya), Sunan Maulana Malik Ibrahim (Gresik), Sunan Giri (Gresik), Sunan Drajad (Lamongan), dan Sunan Bonang (Tuban).

Susunan Acara :
1. Berkumpul di Masjid Ceng Ho Surabaya Briefing + Makan pagi.
2. Makam Sunan Ampel.
3. Makam Syeh Maulana Malik Ibrahim.
4. Makam Sunan Giri.
5. Makam Sunan Drajad + Makan Siang di restoran lokal prasmanan.
6. Makam Sunan Bonang.
7. Menuju Masjid Ceng Ho Surabaya.

Fasilitas :
1. Transportasi,  Full AC, Toilet, smoke area, Reclining seat.
2. Makan pagi & makan siang..
3. Ustad/Pembimbing.
4. Tour Leader.
5. Buku panduan.
6. Dokumentasi, foto dan film diberikan VCD/DVD kepada tiap peserta.
7. Snack dan Air mineral.
Infaq standar : Rp 200.000,- ($25 US)*
Untuk request pelayanan ekstra untuk peserta dari luar kota atau negeri, seperti antar jemput ke bandara juanda, pemesanan hotel. Biaya menyesuaikan.

ANDA TINGGAL SANTAI MENIKMATI PERJALANAN.
KAMI ATUR PERJALANAN ANDA SENYAMAN MUNGKIN MELALUI EVEN ORGANIZER KAMI.. 
Untuk informasi lebih lanjut dan pemesanan tempat, silakan hubungi:

Panitia Ziarah Wali Tour.
Phone / SMS  :  +6282139632004
Email              :  ziarahsuci@gmail.com
*Harga dapat berubah sewaktu-waktu.

MENGENAL SUNAN AMPEL


Sunan Ampel pada masa kecilnya bernama Raden Rahmat, dan diperkirakan lahir pada tahun 1401 di Champa. Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa. Menurut beberapa riwayat, orang tua Sunan Ampel adalah Makhdum Ibrahim (menantu Sultan Champa dan ipar Dwarawati). Dalam catatan Kronik Cina dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng - seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi) yang ditugaskan sebagai Pimpinan Komunitas Cina di Champa oleh Sam Po Bo. Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu - menantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga telah ditugaskan sebagai kapten Cina di Tuban. Haji Gan En Cu kemudian menempatkan menantunya Bong Swi Hoo sebagai kapten Cina di Jiaotung (Bangil).
         Sementara itu seorang putri dari Kyai Bantong (versi Babad Tanah Jawi) alias Syaikh Bantong (alias Tan Go Hwat menurut Purwaka Caruban Nagari) menikah dengan Prabu Brawijaya V (alias Bhre Kertabhumi) kemudian melahirkan Raden Fatah. Namun tidak diketahui apakah ada hubungan antara Ma Hong Fu dengan Kyai Bantong.
           Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakan keponakan dari Putri Champa permaisuri Prabu Brawijaya yang merupakan seorang muslimah.


Raden Rahmat dan Raden Santri adalah anak Makhdum Ibrahim (putra Haji Bong Tak Keng), keturunan suku Hui dari Yunnan yang merupakan percampuran bangsa Han/Tionghoa dengan bangsa Asia Tengah (Samarkand). Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh/Abu Hurairah (cucu raja Champa) pergi ke Majapahit mengunjungi bibi mereka bernama Dwarawati puteri raja Champa yang menjadi permaisuri raja Brawijaya. Raja Champa saat itu merupakan seorang muallaf. Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh akhirnya tidak kembali ke negerinya karena Kerajaan Champa dihancurkan oleh Kerajaan Veit Nam.
        Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (Hikayat Banjar resensi I), nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu, anak Sultan Pasai. Beliau datang ke Majapahit menyusul/menengok kakaknya yang diambil istri oleh Raja Mapajahit. Raja Majapahit saat itu bernama Dipati Hangrok dengan mangkubuminya Patih Maudara (kelak Brawijaya VII) . Dipati Hangrok (alias Girindrawardhana alias Brawijaya VI) telah memerintahkan menterinya Gagak Baning melamar Putri Pasai dengan membawa sepuluh buah perahu ke Pasai. Sebagai kerajaan Islam, mulanya Sultan Pasai keberatan jika Putrinya dijadikan istri Raja Majapahit, tetapi karena takut binasa kerajaannya akhirnya Putri tersebut diberikan juga. Putri Pasai dengan Raja Majapahit memperoleh anak laki-laki. Karena rasa sayangnya Putri Pasai melarang Raja Bungsu pulang ke Pasai. Sebagai ipar Raja Majapahit, Raja Bungsu kemudian meminta tanah untuk menetap di wilayah pesisir yang dinamakan Ampelgading. Anak laki-laki dari Putri Pasai dengan raja Majapahit tersebut kemudian dinikahkan dengan puteri raja Bali. Putra dari Putri Pasai tersebut wafat ketika istrinya Putri dari raja Bali mengandung tiga bulan. Karena dianggap akan membawa celaka bagi negeri tersebut, maka ketika lahir bayi ini (cucu Putri Pasai dan Brawijaya VI) dihanyutkan ke laut, tetapi kemudian dapat dipungut dan dipelihara oleh Nyai Suta-Pinatih, kelak disebut Pangeran Giri. Kelak ketika terjadi huru-hara di ibukota Majapahit, Putri Pasai pergi ke tempat adiknya Raja Bungsu di Ampelgading. Penduduk desa-desa sekitar memohon untuk dapat masuk Islam kepada Raja Bungsu, tetapi Raja Bungsu sendiri merasa perlu meminta izin terlebih dahulu kepada Raja Majapahit tentang proses islamisasi tersebut. Akhirnya Raja Majapahit berkenan memperbolehkan penduduk untuk beralih kepada agama Islam. Petinggi daerah Jipang menurut aturan dari Raja Majapahit secara rutin menyerahkan hasil bumi kepada Raja Bungsu. Petinggi Jipang dan keluarga masuk Islam. Raja Bungsu beristrikan puteri dari petinggi daerah Jipang tersebut, kemudian memperoleh dua orang anak, yang tertua seorang perempuan diambil sebagai istri oleh Sunan Kudus (tepatnya Sunan Kudus senior/Undung/Ngudung), sedang yang laki-laki digelari sebagai Pangeran Bonang. Raja Bungsu sendiri disebut sebagai Pangeran Makhdum.

Senin, 03 Juni 2013

SEJARAH TAWASUL

Tawasul itu pada intinya adalah berdoa kepada Allah SWT, namun kenunikan tawasul itu melalui perantara. Ada dua macam tawasul, yaitu Pertama : berdoa dengan melalui perantaraan amalnya sendiri atau Kedua : meminta didoakan oleh orang yang dia percaya kepada Allah SWT. Kedua jenis tawasul diatas adalah tawasul yang benar.

1) Tawasul melalui amalnya
Dalam bahasan tawasul yang pertama ini amalnya seolah-olah ditukar dengan permohonan kepada Allah SWT. Disini ada jual beli, atau take and give antara hamba dengan Allah SWT dengan sangat nyata!. Ada proses mengundat - undat amalan soleh kepada Allah agar doanya bisa dikabulkan. (mengundat- undat amal kepada bani adam tidak boleh, tapi kepada Allah boleh). Hal ini terjadi dalam sebuah kisah 3 orang pemuda yang terperangkap di goa. Ini contoh mengenai tawasul... Ok ini kisahnya.:
         Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari Muslim dikisahkan, ada tiga orang pemuda pergi hendak beribadah kepada Allah. Di perjalanan hujan turun sangat lebat sekali. Lalu mereka pun berlindung di dalam sebuah gua. Tiba-tiba jatuh sebuah batu sangat besar menutupi mulut gua. Ketiga pemuda itu akhirnya terkurung dan tidak dapat keluar.



  Gambar diambil dari situs : http://daily-lazy.blogspot.com
        

Seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya, “Wahai hamba Allah, demi Allah, tidak ada yang dapat menyelamatkan kita sekarang ini kecuali Allah Swt. Barangkali ada amal paling baik yang pernah kita lakukan yang dapat kita kemukakan kepada-Nya untuk menyelamatkan kita dari musibah ini”. 
        Salah seorang dari mereka lalu berkata, “Ya Allah, saya pernah terpikat kepada seorang wanita yang sangat cantik. Kerana aku memiliki kekuasaan dan kekayaan, lalu aku bayar wanita itu dengan harga yang dikehendakinya. Ketika kami berdua-duaan dan aku mempunyai kesempatan untuk berbuat zina, tiba-tiba aku ingat siksa-Mu ya Allah, lalu aku batalkan niat buruk itu. Ya Allah, seandainya apa yang aku perbuat itu baik menurut-Mu, tolong geserkan batu besar yang menghalangi mulut gua ini.”
       Selesai pemuda itu berkata-kata, tiba-tiba batu besar yang menutupi mulut gua itu bergeser sedikit, tetapi mereka belum dapat keluar. 
          Lalu pemuda kedua pula berkata, “Ya Allah, aku pernah menyuruh sekelompok orang bekerja dengan upah masing-masing setengah dirham. Ketika mereka selesai bekerja, aku terus membayar upahnya. Tiba-tiba ada salah seorang daripadanya menolak mengambil upah itu, kerana ia merasa melakukan dua pekerjaan sekaligus. Ia hanya ingin diupah sebanyak satu dirham. Kerana tidak bersetuju dengan kadar upahnya, orang itu lalu pergi begitu sahaja tanpa mengambil upahnya terlebih dahulu. Sepeninggalan orang itu, aku kembangkan uangnya yang setengah dirham itu sehingga menghasilkan banyak keuntungan. Pada suatu hari orang tadi datang semula dan meminta upahnya yang setengah dirham itu. Lalu aku berikan kepadanya 10 ribu dirham dari keuntungan uangnya yang setengah dirham dari upahnya dahulu. Orang tersebut terkejut dan mengatakan: “Jangan kamu hendak bergurau, upah aku dahulu bukan sebesar ini tetapi hanya setengah dirham”. Lalu aku jelaskan, bahawa uangnya yang setengah dirham itu telah aku laburkan sehingga terus bertambah sampai sebanyak ini. Setelah jelas, dia pun mengambilnya dengan penuh bahagia dan rasa syukur. Ya Allah, Engkau Maha Tahu, aku melakukan itu semata-mata kerana mengharapkan keredhaan-Mu. Ya Allah, jika apa yang aku lakukan itu baik menurutMu, tolong angkat batu yang menghalangi tempat keluar kami ini.”
          Lalu batu itu bergeser kembali, namun mereka tetap belum dapat keluar.
      Pemuda yang ketiga pula lalu berkata, “Ya Allah, kedua orang tua ku sudah sangat tua. Meskipun demikian, aku sangat menyayangi keduanya dan aku tidak pernah minum atau makan sebelum keduanya minum dan makan. Suatu hari aku bawakan sebotol air susu untuk keduanya namun mereka sedang tidur dengan lena. Aku tidak berani mengejutkannya, lalu aku tunggu sehingga keduanya bangun. Meskipun anak aku waktu itu menangis meminta susu itu, namun aku tidak memberikannya sebelum kedua orang tua aku meminumnya terlebih dahulu. Apabila kedua orang tua ku bangun, aku terus memberinya minum.Ya Allah, Engkau Maha Tahu, apa yang aku perbuat itu semata-mata kerana mengharap keredhaan-Mu, maka tolong alihkan batu ini supaya kami dapat keluar”. 
        Akhirnya batu itu bergeser kembali dan akhirnya mereka dapat keluar dari gua tersebut dengan selamat. 
        (HR.Bukhari dan Muslim).

 Nah, kisah diatas merupakan tawasul jenis pertama.

2) Tawasul melalui Doa Orang Lain (Masih Hidup).
Saya meminta doa dari Anda kepada Allah, agar saya diberi ampunan oleh Allah. Atau anda meminta saya mendoakan anda kepada Allah agar anda sembuh dari sakit Merupakan jenis tawasul kedua. Ini adalah tawasul, Seperti halnya kisah berikut ini :
        Suatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya :"Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?".Lalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang tersebut saling bertatap
pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.
          "Siapa namamu?" tanya Umar.
          "Aku Uwais", jawabnya datar.
          "Apakah engkau mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?, tanya Umar lagi.
          "Benar, Amirul Mu'minin", jawab Uwais tegas.
        Umar masih penasaran lalu bertanya kembali "Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham?" (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tidak hilang).
          "Benar, Amirul Mu'minin, dulu aku terkena penyakit kulit "belang", lalu aku berdo'a kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku".
          "Mintakan aku ampunan kepada Allah".
      Uwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan penuh keheranan. "Wahai Amirul Mu'minin, engkau justru yang lebih behak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?"
      Lalu Umar berkata "Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w berkata "Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah"
        Uwais lalu mendoa'kan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah.

          (H.R. Muslim dan Ahmad)

 Gambar diambil dari situs : http://www.nytimes.com

Itulah jenis tawasul yang kami ketahui yang memiliki nash yang kuat. Sedangkan tawasul melalui perantaraan orang mati tidak memiliki nash yang kuat.

Semoga bermanfaat,
Team Tour Ziarah Wali

ZIARAH KUBUR BOLEH, ASAL?

“(Dulu) Aku pernah melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah kalian.” (HR. Muslim no.977) Tapi ziarah kubur itu tujuannya bukan minta-minta berkah ahli kubur atau tawasul. Tujuannya adalah:


 
Gambar diambil dari situs : http://www.latinospost.com

1) Mengingat mati
Dari Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, mereka berdua berkata: Muhammad Bin ‘Ubaid menuturkan kepada kami: Dari Yaziid bin Kasyaan, ia berkata: Dari Abu Haazim, ia berkata: Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berziarah kepada makam ibunya, lalu beliau menangis, kemudian menangis pula lah orang-orang di sekitar beliau. Beliau lalu bersabda: “Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun aku tidak diizinkan melakukannya. Maka aku pun meminta izin untuk menziarahi kuburnya, aku pun diizinkan. Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkan engkau akan kematian
(HR. Muslim no.108, 2/671) 

2) Meneladani Kesalehan para Wali
Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak (qaulul hujr), ketika berziarah” (HR. Al Haakim no.1393, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’, 7584). Dengan demikian, harapan ziarah kubur wali itu hendaknya rombongan jamaah dapat mengetahui sejarah masing-masing tokoh wali, dan bagaimana beliau-beliau  itu menggembleng diri meningkatkan ketakwaan mereka. Sehingga dengan mengetahui sejarah tersebut dapat memupuk semangat para jamaah untuk beribadah kepada Allah SWT.  

3) Sekedar Bersilaturahmi kepada Ahli kubur. 
Aisyah bertanya: Apa yang harus aku ucapkan bagi mereka (shahibul qubur) wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Ucapkanlah: Assalamu ‘alaa ahlid diyaar, minal mu’miniina wal muslimiin, wa yarhamullahul mustaqdimiina wal musta’khiriina, wa inna insyaa Allaahu bikum lalaahiquun (Salam untuk kalian wahai kaum muslimin dan mu’minin penghuni kubur. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah mendahului (mati), dan juga orang-orang yang diakhirkan (belum mati). Sungguh, Insya Allah kami pun akan menyusul kalian” (HR. Muslim no.974)
 
Semoga bermanfaat,
Team Tour Ziarah Wali




ZIARAH WALI SYIRIK DAN TIDAK

NIAT ZIARAH KUBUR/ZIARAH WALI HARUS BENAR :
TIDAK BOLEH MINTA BERKAH KEPADA AHLI KUBUR & TIDAK BOLEH MENJADIKAN AHLI KUBUR SEBAGAI MAKELAR DOA KEPADA ALLAH (TAWASUL)

 (Ilustrasi Wali Songo)

Ziarah Wali janganlah dulu langsung di vonis musyrik secara keseluruhan.
Ziarah Wali jangan pula dibiarkan mengalir begitu saja tanpa filter.
Menjadi musyrik atau tidaknya seseorang tergantung dari pemahaman masing-masing.
Paling penting adalah memberikan pemahaman yang benar, bagaimana ziarah sesuai akidah Islam.
Seseorang berziarah bisa menjadi musrik, atau juga bisa menuai hikmah.
Yang tahu soal ini wajib memberi tahu kepada yang tidak tahu.

Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak (qaulul hujr), ketika berziarah” 
(HR. Al Haakim no.1393, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’, 7584).
Di Indonesia banyak bermunculan jenis wisata, salah satunya adalah wisata religius, yang artinya tour dalam rangka ibadah. Salah satunya adalah ziarah ke makam para wali. Ziarah Wali boleh-boleh saja dilakukan, asalkan jangan sampai wisata kita tersebut malah mendapatkan dosa syirik. Seringkali kita jumpai, banyak umat Islam di Indonesia, salah niatnya ketika berziarah. Kok salah niat bagaimana? Lha mereka giat sekali berziarah kubur, terutama kuburan wali songo dan kuburan yang dianggap keramat. Ujung-ujungnya ziarah wali yang mereka  lakukan ini dimanfaatkan untuk bertawassul kepada para wali yang sudah mati tersebut, agar disampaikan hajat mereka kehadirat Allah.  Niat yang lebih parah lagi adalah, mereka minta langsung kepada ahli kubur (wali yang sudah mati tersebut) berupa kesembuhan, minta dagangannya laris barokah, minta anak,  minta kekayaan, minta ketenangan jiwa, ingin membalas dendam atau minta agar dijauhkan dari bala' malapetaka. Intinya dengan demikian mereka sudah "terjebak" atau "tertipu" oleh syetan memohon kepada selain Allah SWT, jika mereka memohon kepada selain Allah SWT maka mereka sudah jatuh dalam perbuatan syirik. Sedangkan syirik adalah dosa yang tidak diampuni jika saat mereka meninggal masih dalam keadaan tersebut.

 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah melakukan dosa yang besar”. (Surah an-Nisaa’, 4: 48)

Mengapa tawasul kepada wali atau minta pada kuburan wali termasuk syirik?
Biasanya bantahan orang-orang yang suka bertawasul seperti ini,  “Saya minta kepadanya karena dia lebih dekat kepada Allah daripada saya, supaya dia menolong saya dalam urusan-urusan ini. Saya menjadikannya perantara kepada Allah sebagaimana seseorang mendekat (dalam rangka minta bantuan) kepada raja dengan perantaraan orang-orang penting dan pembantu-pembantunya.”

Atas alasan diatas dengan tegas kami katakan bahwa antara Allah SWT dengan hambanya tidak ada jarak. Setiap hamba dapat memohon langsung kepada Allah SWT. Tanpa birokrasi, dan tanpa makelar. Jawabannya 3 dibawah ini :

1) Pernahkah Allah SWT memerintahkan memohon kepada selain Allah?
Surat Al Fatehah "Hanya kepadaMulah kami meminta dan hanya kepadaMulah kami memohon pertolongan".

2) Pernahkah Nabi Muhammad SAW mencontohkan tawasul kepada orang mati? 
Nabi Muhammad tidak pernah mengajarkan kita untuk meminta kepada orang mati. Tapi Nabi Muhammad SAW pernah dimintai doa oleh sahabat-sahabatnya. Artinya,  Minta tolong didoakan itu berlaku kepada orang yang masih hidup.

3) Berkaitan dengan point nomor dua, dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa orang mati itu sudah putus amalnya kecuali 3 perkara yaitu amal solehnya, ilmunya yang bermanfaat serta doa anaknya yang soleh. 
Secara garis besar orang meninggal itu sudah stop aktivitas amalnya. Sudah tidak bisa bikin pahala maupun dosa lagi. Kesempatan untuk bercocok tanam sudah habis masanya. Mati ibarat sudah selesai pencarian amal kita. Jadi kesimpulannya, maka tidak bisa seorang yang mati menjadi perantara doa bahkan "menolong" seseorang yang kesusahan. Kalaupun toh ada haditnya dalam konteks memohonkan ampun kepada ahli kubur, itupun sesuai prosedur seperti hadits ini:  “Aisyah bertanya: Apa yang harus aku ucapkan bagi mereka (shahibul qubur) wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Ucapkanlah: Assalamu ‘alaa ahlid diyaar, minal mu’miniina wal muslimiin, wa yarhamullahul mustaqdimiina wal musta’khiriina, wa inna insyaa Allaahu bikum lalaahiquun (Salam untuk kalian wahai kaum muslimin dan mu’minin penghuni kubur. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah mendahului (mati), dan juga orang-orang yang diakhirkan (belum mati). Sungguh, Insya Allah kami pun akan menyusul kalian” (HR. Muslim no.974)


Semoga bermanfaat,
Tim Tour Ziarah Wali.