Tawasul itu pada intinya adalah berdoa kepada Allah SWT, namun kenunikan tawasul itu melalui perantara. Ada dua macam tawasul, yaitu Pertama : berdoa dengan melalui perantaraan amalnya sendiri atau Kedua : meminta didoakan oleh orang yang dia percaya kepada Allah SWT. Kedua jenis tawasul diatas adalah tawasul yang benar.
1) Tawasul melalui amalnya
Dalam bahasan tawasul yang pertama ini amalnya seolah-olah ditukar dengan permohonan kepada Allah SWT. Disini ada jual beli, atau take and give antara hamba dengan Allah SWT dengan sangat nyata!. Ada proses mengundat - undat amalan soleh kepada Allah agar doanya bisa dikabulkan. (mengundat- undat amal kepada bani adam tidak boleh, tapi kepada Allah boleh). Hal ini terjadi dalam sebuah kisah 3 orang pemuda yang terperangkap di goa. Ini contoh mengenai tawasul... Ok ini kisahnya.:
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari Muslim dikisahkan, ada tiga
orang pemuda pergi hendak beribadah kepada Allah. Di perjalanan hujan
turun sangat lebat sekali. Lalu mereka pun berlindung di dalam sebuah
gua. Tiba-tiba jatuh sebuah batu sangat besar menutupi mulut gua.
Ketiga pemuda itu akhirnya terkurung dan tidak dapat keluar.
Seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya, “Wahai hamba Allah, demi Allah, tidak ada yang dapat menyelamatkan kita sekarang ini kecuali Allah Swt. Barangkali ada amal paling baik yang pernah kita lakukan yang dapat kita kemukakan kepada-Nya untuk menyelamatkan kita dari musibah ini”.
Gambar diambil dari situs : http://daily-lazy.blogspot.com
Seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya, “Wahai hamba Allah, demi Allah, tidak ada yang dapat menyelamatkan kita sekarang ini kecuali Allah Swt. Barangkali ada amal paling baik yang pernah kita lakukan yang dapat kita kemukakan kepada-Nya untuk menyelamatkan kita dari musibah ini”.
Salah seorang dari mereka lalu berkata, “Ya Allah, saya pernah
terpikat kepada seorang wanita yang sangat cantik. Kerana aku memiliki
kekuasaan dan kekayaan, lalu aku bayar wanita itu dengan harga yang
dikehendakinya. Ketika kami berdua-duaan dan aku mempunyai kesempatan
untuk berbuat zina, tiba-tiba aku ingat siksa-Mu ya Allah, lalu aku
batalkan niat buruk itu. Ya Allah, seandainya apa yang aku perbuat itu
baik menurut-Mu, tolong geserkan batu besar yang menghalangi mulut gua
ini.”
Selesai pemuda itu berkata-kata, tiba-tiba batu besar yang menutupi mulut gua itu bergeser sedikit, tetapi mereka belum dapat keluar.
Selesai pemuda itu berkata-kata, tiba-tiba batu besar yang menutupi mulut gua itu bergeser sedikit, tetapi mereka belum dapat keluar.
Lalu pemuda kedua pula berkata, “Ya Allah, aku pernah menyuruh
sekelompok orang bekerja dengan upah masing-masing setengah dirham.
Ketika mereka selesai bekerja, aku terus membayar upahnya. Tiba-tiba ada
salah seorang daripadanya menolak mengambil upah itu, kerana ia merasa
melakukan dua pekerjaan sekaligus. Ia hanya ingin diupah sebanyak satu
dirham. Kerana tidak bersetuju dengan kadar upahnya, orang itu lalu
pergi begitu sahaja tanpa mengambil upahnya terlebih dahulu. Sepeninggalan orang itu, aku kembangkan uangnya yang setengah dirham itu
sehingga menghasilkan banyak keuntungan. Pada suatu hari orang tadi
datang semula dan meminta upahnya yang setengah dirham itu. Lalu aku
berikan kepadanya 10 ribu dirham dari keuntungan uangnya yang setengah
dirham dari upahnya dahulu. Orang tersebut terkejut dan mengatakan:
“Jangan kamu hendak bergurau, upah aku dahulu bukan sebesar ini tetapi
hanya setengah dirham”. Lalu aku jelaskan, bahawa uangnya yang setengah
dirham itu telah aku laburkan sehingga terus bertambah sampai sebanyak
ini. Setelah jelas, dia pun mengambilnya dengan penuh bahagia dan rasa
syukur. Ya Allah, Engkau Maha Tahu, aku melakukan itu semata-mata kerana
mengharapkan keredhaan-Mu. Ya Allah, jika apa yang aku lakukan itu baik
menurutMu, tolong angkat batu yang menghalangi tempat keluar kami ini.”
Lalu batu itu bergeser kembali, namun mereka tetap belum dapat keluar.
Pemuda yang ketiga pula lalu berkata, “Ya Allah, kedua orang tua ku sudah sangat tua. Meskipun demikian, aku sangat menyayangi keduanya dan aku tidak pernah minum atau makan sebelum keduanya minum dan makan. Suatu hari aku bawakan sebotol air susu untuk keduanya namun mereka sedang tidur dengan lena. Aku tidak berani mengejutkannya, lalu aku tunggu sehingga keduanya bangun. Meskipun anak aku waktu itu menangis meminta susu itu, namun aku tidak memberikannya sebelum kedua orang tua aku meminumnya terlebih dahulu. Apabila kedua orang tua ku bangun, aku terus memberinya minum.Ya Allah, Engkau Maha Tahu, apa yang aku perbuat itu semata-mata kerana mengharap keredhaan-Mu, maka tolong alihkan batu ini supaya kami dapat keluar”.
Lalu batu itu bergeser kembali, namun mereka tetap belum dapat keluar.
Pemuda yang ketiga pula lalu berkata, “Ya Allah, kedua orang tua ku sudah sangat tua. Meskipun demikian, aku sangat menyayangi keduanya dan aku tidak pernah minum atau makan sebelum keduanya minum dan makan. Suatu hari aku bawakan sebotol air susu untuk keduanya namun mereka sedang tidur dengan lena. Aku tidak berani mengejutkannya, lalu aku tunggu sehingga keduanya bangun. Meskipun anak aku waktu itu menangis meminta susu itu, namun aku tidak memberikannya sebelum kedua orang tua aku meminumnya terlebih dahulu. Apabila kedua orang tua ku bangun, aku terus memberinya minum.Ya Allah, Engkau Maha Tahu, apa yang aku perbuat itu semata-mata kerana mengharap keredhaan-Mu, maka tolong alihkan batu ini supaya kami dapat keluar”.
Akhirnya batu itu bergeser kembali dan akhirnya mereka dapat
keluar dari gua tersebut dengan selamat.
(HR.Bukhari dan Muslim).
Nah, kisah diatas merupakan tawasul jenis pertama.
2) Tawasul melalui Doa Orang Lain (Masih Hidup).
Saya meminta doa dari Anda kepada Allah, agar saya diberi ampunan oleh Allah. Atau anda meminta saya mendoakan anda kepada Allah agar anda sembuh dari sakit Merupakan jenis tawasul kedua. Ini adalah tawasul, Seperti halnya kisah berikut ini :
Suatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya :"Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?".Lalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang tersebut saling bertatap
pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.
"Siapa namamu?" tanya Umar.
"Aku Uwais", jawabnya datar.
"Apakah engkau mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?, tanya Umar lagi.
"Benar, Amirul Mu'minin", jawab Uwais tegas.
Umar masih penasaran lalu bertanya kembali "Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham?" (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tidak hilang).
"Benar, Amirul Mu'minin, dulu aku terkena penyakit kulit "belang", lalu aku berdo'a kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku".
"Mintakan aku ampunan kepada Allah".
Uwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan penuh keheranan. "Wahai Amirul Mu'minin, engkau justru yang lebih behak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?"
Lalu Umar berkata "Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w berkata "Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah"
Uwais lalu mendoa'kan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah.
(H.R. Muslim dan Ahmad)
pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.
"Siapa namamu?" tanya Umar.
"Aku Uwais", jawabnya datar.
"Apakah engkau mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?, tanya Umar lagi.
"Benar, Amirul Mu'minin", jawab Uwais tegas.
Umar masih penasaran lalu bertanya kembali "Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham?" (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tidak hilang).
"Benar, Amirul Mu'minin, dulu aku terkena penyakit kulit "belang", lalu aku berdo'a kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku".
"Mintakan aku ampunan kepada Allah".
Uwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan penuh keheranan. "Wahai Amirul Mu'minin, engkau justru yang lebih behak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?"
Lalu Umar berkata "Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w berkata "Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah"
Uwais lalu mendoa'kan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah.
(H.R. Muslim dan Ahmad)
Itulah jenis tawasul yang kami ketahui yang memiliki nash yang kuat. Sedangkan tawasul melalui perantaraan orang mati tidak memiliki nash yang kuat.
Semoga bermanfaat,
Team Tour Ziarah Wali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar